Pada tanggal 22 Juni 1992 Yayasan Dwi Sejahtera (YDS) mendirikan perguruan tinggi tingkat Diploma Tiga (D III) dengan nama AKADEMI TEKNOLOGI PEKANBARU (ATP) yang bertujuan untuk menghasilkan alumni sebagai tenaga Ahli Madya Teknik, adapun program studinya yaitu Teknik Elektro, Teknik Mesin dan Teknik Sipil. Setiap perguruan tinggi akan melaksanakan TriDhama yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Pelaksanaan dan pengembangan tridharma terus dilakukan, hal ini dapat dilihat dengan adanya laporan Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED).

Dalam perjalanannya Akademi Teknologi Pekanbaru (ATP) telah menghasilkan lulusan pada tahun 1996. Kemudian Yayasan Dwi Sejahtera meningkatkan status pendidikan yang diselenggarakan ke jenjang  setingkat diatas Diploma Tiga tepatnya Strata Satu atau Sarjana.  Berdasarkan SK KepMen DikNas R.I No.10/D/0/2004 tanggal 19 Januari 2004 tentang pendirian SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI PEKANBARU (STTP) dan izin penyelenggaraan Program Studi yang diselenggarakan oleh Yayasan Dwi Sejahtera (YDS). Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru terdiri dari 3 program studi yaitu Teknik Elektro, Teknik Mesin dan Teknik Sipil. Dimaksudkan untuk menghasilkan alumni sebagai  Sarjana Teknik yang menjadi solusi dari perkembangan Teknologi Pendidikan di daerah  Riau sebagai wujud nyata dari peningkatan sumber daya manusia.Sejak Sekolah Tinggi Teknologi berdiri tahun 2004 pelaporan EPSBED rutin dibuat sebagai bukti adanya aktifitas kegiatan tridhama yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang merupakan evaluasi diri secara sistemik dan berkelanjutan untuk mengutamakan mutu baik. Walaupun pada saat ini belum membentuk sistem penjaminan mutu secara formal. Secara internal, mekanisme kontrol dan monitoring di setiap program studi dan unit kerja dilakukan oleh  Ketua  Program studi dan Unit  atau  Lembaga  yang  bersangkutan.

Pada tahun 2008 – 2012 telah dibentuk lembaga penjamin mutu internal di Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru, dengan  mengacu pada Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan Evaluasi Mutu Internal (EMI), namun lembaga ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Sejak tahun 2012 – 2014 lembaga penjamin mutu internal di Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru telah memulai menjalankan peran, yang ditunjukkan dengan telah ditetapkan 11 (sebelas) standar, yaitu: 1) standar isi; 2) standar proses; 3) standar kompetensi lulusan; 4) standar tenaga kependidikan; 5) standar sarana dan prasarana; 6) standar pengelolaan; 7) standar pembiayaan; 8) standar penilaian; 9) standar penelitian; 10) standar pengabdian kepada masyarakat; dan 11) standar kerjasama. Standar tersebut masih perlu dikembangkan di tingkat Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru  secara terintegrasi sebagai acuan LPMI di tingkat prodi, dan unit kerja yang lain. Dengan gagasan, masukan dan informasi berbasis data dalam perencanaan pengembangan pendidikan, menyediakan layanan dan bantuan kepada staf akademik untuk peningkatan kemampuan dalam proses pembelajaran, dan bersama dengan unit kerja yang relevan melakukan evaluasi hasil dan proses pembelajaran yang ditujukan untuk peningkatan kualitas, penelitian dan pengabdian masyarakat secara berkelanjutan. Berdasarkan dari monitoring dan hasil audit yang dilakukan demi peningkatan mutu, maka tahun 2016 diadakan revisi terkait dengan dokumen, kebijakan, manual dan standar dengan acuan Permen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  No 49 tahun 2014 berbasis model manajemen PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan).

Selanjutnya tahun 2021 Permen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  No 3 tahun 2020 standar nasional pendidikan tinggi yang terdiri dari kebijakan, manual dan standar pendidikan (8 standar), standar penelitian (8 standar) dan standar pengabdian kepada masyarakat (8 standar). Standar tambahan lainnya (7 standar) sebagai pengembangan dari standar – standar yang sudah ada dari standar nasional untuk peningkatan mutu di Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru.

               Peranan dari LPMI menjadi sangat strategis dalam penjaminan mutu pendidikan,penelitian, pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjutnya secara berkesinambungan membutuhkan berkoordinasi dengan semua bidang baik pada tingkat  sekolah tinggi maupun program studi. Secara total penjaminan mutu harus mencakup aspek akademik dan non-akademik, dan mengintegrasikan keduanya sehingga kualitas produk pendidikan dapat diprediksi dan dapat dikembangkan menurut ukuran tertentu yang didukung oleh sistem dan prosedur baku dari aspek akademik dan non-akademik. Meskipun produk akademik berupa lulusan, hasil penelitian dan publikasi serta pengabdian kepada masyarakat, namun proses produksinya melibatkan perpaduan aspek akademik dan nonakademik. Aspek ini meliputi mata kuliah, tenaga akademik, tenaga nonakademik, kepemimpinan, sarana dan prasarana, kekuatan finansial, budaya dan  tata nilai. Supaya penjaminan mutu bermanfaat lebih besar,  pengembangan sistem dan prosedur akademik dan non akademik harus dilakukan secara berkesinambungan.

 

“Sistem penjamin mutu internal yang baik meningkatkan mutu tridharma”